otomotif

Jangan Lakukan! Ini 10 Etika Berkendara yang Sering Diabaikan Pengemudi di Jalan Raya

Jumat, 20 Februari 2026 | 10:12 WIB
Keterangan foto: Ilustrasi kendaraan yang memaksa jalur masuk (Realitasonline/ Canva)

Realitasonline.id - OTOMOTIF| Mengemudi bukan hanya perkara mampu menjalankan kendaraan dari titik A ke titik B. Di balik kemudi, ada tanggung jawab besar terhadap keselamatan diri sendiri, penumpang, serta pengguna jalan lain. Sayangnya, masih banyak pengemudi yang mengabaikan etika berkendara. Mereka merasa selama tidak menabrak atau ditilang, berarti tidak melakukan kesalahan.

Padahal, sikap dan perilaku di jalan sangat menentukan terciptanya lalu lintas yang tertib dan nyaman. Banyak kemacetan bahkan kecelakaan bermula dari tindakan kecil yang terlihat sepele, seperti tidak memberi sein atau memotong jalur secara paksa.

Membangun budaya berkendara yang baik memang tidak mudah, tetapi harus dimulai dari kesadaran setiap individu. Berikut ini berbagai bentuk etika berkendara yang sering diabaikan.

Baca Juga: Dandim Abdya Sulap Lahan Terbatas Rumah Dinas Jadi Kompi Produksi Pangan

Lalai Menggunakan Lampu Sein

Lampu sein berfungsi sebagai bahasa komunikasi antar kendaraan. Ketika seseorang hendak berbelok atau berpindah jalur, tanda ini memberi kesempatan bagi pengendara lain untuk mengantisipasi.
Namun kenyataannya, banyak pengemudi menyalakan sein saat sudah berbelok, bahkan ada yang sama sekali tidak menggunakannya. Akibatnya kendaraan di sekitar kaget dan harus melakukan pengereman mendadak.
Etika yang benar adalah menyalakan sein beberapa detik sebelumnya agar orang lain memiliki waktu bereaksi.


Memaksakan Masuk Jalur

Situasi macet sering membuat sebagian pengemudi tidak sabar. Mereka melihat celah sedikit lalu langsung menyerobot masuk tanpa memikirkan kendaraan lain.
Tindakan ini menimbulkan efek domino. Mobil yang dipotong harus mengerem, kendaraan di belakang ikut melambat, dan antrian makin panjang.
Memberi kesempatan secara bergantian jauh lebih efektif dibanding saling berebut.


Terlalu Mudah Menggunakan Klakson

Klakson memang penting sebagai alat peringatan. Tetapi jika digunakan berlebihan, fungsinya berubah menjadi sumber kebisingan dan tekanan emosional.
Banyak pengemudi membunyikan klakson hanya karena kendaraan di depan belum bergerak satu detik setelah lampu hijau menyala. Padahal mungkin pengemudi tersebut sedang memastikan kondisi sekitar aman.
Sedikit kesabaran bisa membuat suasana jalan jauh lebih nyaman.

Baca Juga: Polres Samosir dan Insan Pers Berbagai Media Bersilaturahmi

Tidak Memberi Hak Pejalan Kaki

Pejalan kaki termasuk pengguna jalan yang paling rentan. Mereka tidak memiliki perlindungan seperti pengendara mobil atau motor.
Sayangnya, masih banyak zebra cross yang tidak dihormati. Kendaraan tetap melaju walaupun ada orang yang hendak menyeberang.
Mengurangi kecepatan dan berhenti sejenak adalah bentuk kepedulian sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa.

 

Halaman:

Tags

Terkini