Mengemudi dengan Emosi
Stres karena macet atau terburu waktu sering membuat pengemudi kehilangan kendali emosi. Mulai dari menyalip sembarangan, marah-marah, hingga melakukan manuver berbahaya.
Emosi membuat kemampuan mengambil keputusan menurun. Mengemudi seharusnya dilakukan dengan kepala dingin.
Jika merasa mulai kesal, tarik napas dalam dan fokus kembali pada keselamatan.
Parkir dan Berhenti Seenaknya
Berhenti di tikungan, depan gang, atau bahu jalan tanpa alasan jelas merupakan kebiasaan yang sangat mengganggu. Selain menyebabkan kemacetan, hal ini juga meningkatkan risiko kecelakaan.
Pastikan kendaraan diparkir di tempat yang memang diperbolehkan dan tidak menghalangi arus lalu lintas.
Baca Juga: Wabup Samosir Tanam Pohon di Lereng Gunung Pusuk Buhit, Perkuat Komitmen Pelestarian Alam
Tidak Menjaga Jarak Aman
Menempel kendaraan di depan mungkin membuat kita merasa bisa lebih cepat, tetapi risikonya besar. Ketika mobil di depan mengerem mendadak, tabrakan sulit dihindari.
Jarak aman memberi ruang untuk bereaksi sekaligus membuat berkendara terasa lebih santai.
Mengabaikan Kendaraan Prioritas
Ambulans, mobil pemadam, dan kendaraan patroli membutuhkan akses cepat. Tetapi di lapangan masih ada pengemudi yang enggan memberi jalan.
Padahal tindakan kecil membuka ruang dapat membantu penyelamatan yang sangat penting.
Menggunakan Ponsel Saat Mengemudi
Ini termasuk pelanggaran etika sekaligus keselamatan. Perhatian yang teralihkan hanya beberapa detik bisa berakibat fatal.
Jika memang harus menerima telepon atau membaca pesan penting, sebaiknya menepi terlebih dahulu.
Baca Juga: Pemerintah Umumkan 34 Provinsi Ini Jadi Tujuan, Mudik Gratis Lebaran 2026
Pentingnya Memberi Contoh Baik
Budaya tertib lalu lintas tidak akan tercipta jika semua orang menunggu orang lain berubah lebih dulu. Setiap pengemudi punya peran.
Dengan memberi contoh baik, orang lain perlahan akan ikut terbiasa melakukan hal yang sama.
Etika berkendara adalah fondasi utama keselamatan di jalan. Menggunakan sein, sabar mengantre, menghormati pejalan kaki, hingga mengendalikan emosi merupakan kebiasaan sederhana yang berdampak besar.
Jika semakin banyak pengemudi sadar akan pentingnya etika, jalan raya akan menjadi tempat yang lebih ramah dan aman untuk semua. Ingat, tujuan kita bukan hanya sampai, tetapi sampai dengan selamat.(KN)