Andew menyebutkan, pergerakan nilai tukar rupiah kemungkinan sangat terdampak keputusan NFP yang bakal dirilis akhir pekan depan, Jumat (5/1).
Berdasarkan data tenaga kerja tersebut diperkirakan membawa koreksi bagi dolar AS, sehingga Rupiah kemungkinan bakal bergerak dalam rentang Rp 15.200 per dolar AS – Rp 15.300 per dolar AS di akhir pekan depan.
Di samping itu, Lukman menimpali bahwa pelaku pasar akan memperhatikan sentimen dari luar negeri yakni data manufaktur dan service China, data manufaktur AS, risalah pertemuan FOMC, serta data tenaga kerja NFP. Dari dalam negeri, rilis data inflasi bulan Desember 2023 akan menjadi perhatian.
“Pekan depan investor menantikan serangkaian data ekonomi penting baik dari dalam maupun luar negeri. Arah rupiah akan sangat tergantung pada hasil dari data dan pertemuan tersebut,” ujar Lukman.
Menurut Lukman, walaupun dolar AS tertekan akhir-akhir ini, namun indeks dolar AS berhasil rebound dan bertahan di atas level 100. Oleh karena itu, dolar AS saat ini diperkirakan sudah oversold dan memicu bargain hunting, yang bisa berdampak pada koreksi rupiah.
Lukman memproyeksi rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 15.350 per dolar AS-Rp 15.550 per dolar AS. Kalau Sutopo memperkirakan rupiah diperdagangkan pada rentang antara Rp 15.400 per dolar AS-Rp 15.600 per dolar AS di pekan depan.
Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada posisi Rp 15.399 per dolar AS pada Jumat (29/12). Rupiah spot menguat sekitar 0,55% dari posisi pekan lalu Rp 15.484 per dolar AS dan menguat 0,12% dari posisi kemarin Rp 15.418 per dolar AS.
Sementara itu, rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) ditutup pada posisi Rp 15.439 per dolar AS di perdagangan terakhir tahun ini, Jumat (29/12).
Secara mingguan, rupiah Jisdor menguat sekitar 0,32% dari posisi akhir pekan lalu Rp 15.489 per dolar AS, namun rupiah jisdor BI melemah 0,14% dibandingkan posisi kemarin Rp 15.416 per dolar AS.***