Realitasonline.id - Sulawesi Tengah | Kebun Anggur di Desa Duyu yang kini dikenal sebagai Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menjadi bukti nyata keberhasilan pelaksanaan Reforma Agraria melalui Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Kawasan yang sempat terdampak bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi pada 2018 tersebut kini bertransformasi menjadi sentra pertanian produktif sekaligus destinasi agrowisata favorit masyarakat Kota Palu.
Program Reforma Agraria di kawasan ini mulai berjalan sejak 2021 dengan fokus pada penataan aset dan akses bagi masyarakat, khususnya para penyintas bencana.
Melalui pendekatan terpadu lintas sektor, GTRA Kota Palu berhasil mengubah kawasan rawan menjadi zona produktif berbasis pertanian modern, yang tidak hanya meningkatkan hasil pertanian, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat.
Baca Juga: Musrenbang di Manggeng Abdya, Camat Ridha 'Curhat' Masalah Sektor Pertanian Hingga Objek Wisata
Perencana Ahli Muda Dinas Pertanian sekaligus anggota GTRA Kota Palu, Sutikno Teguh Asparianto, menyampaikan apresiasinya atas perkembangan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit.
Ia menilai dampak program tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama dari sisi peningkatan pendapatan.
“ Perkembangan dari segi pendapatan teman-teman di sini cukup menonjol. Mengingat dari sejarah panjangnya, mereka sebenarnya adalah penyintas bencana, ” ujar Sutikno, Kamis (5/2/2026)
Sebagai lembaga yang dibentuk untuk mempercepat pelaksanaan Reforma Agraria, GTRA Kota Palu yang dikoordinasikan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memastikan setiap intervensi pemerintah berjalan tepat sasaran dan terkoordinasi.
“ Sejak 2021 kami tergabung dalam Gugus Tugas Reforma Agraria Kota Palu. Ketua GTRA adalah Bapak Wali Kota Palu yang secara langsung menginstruksikan perangkat daerah untuk mendukung program ini, dengan BPN sebagai koordinator. Dengan demikian, seluruh kegiatan dapat berjalan selaras dan terintegrasi, ” jelasnya.
Baca Juga: Bank Indonesia Sebut Pematangsiantar Alami Deflasi karena Dampak Turunnya Harga Pangan
Manfaat program ini juga dirasakan langsung oleh warga sekitar, termasuk mereka yang tidak tergabung dalam kelompok tani utama.
Ibrahim, salah seorang warga Desa Duyu, mengaku budidaya anggur kini menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarganya.
“ Alhamdulillah, ini jadi tambahan penghasilan selain dari warung. Kampung Duyu juga sekarang makin dikenal sebagai kampung anggur, ” ungkapnya.