Ia menuturkan, dari sekitar 20 pohon anggur yang ditanam sejak tiga tahun lalu, dirinya mampu memanen hingga tiga kali dalam setahun dengan penghasilan sekitar Rp4 juta setiap kali panen.
Budidaya tersebut berawal dari inisiatif pribadi setelah melihat berbagai referensi dan mendapatkan pendampingan dari Ketua Petani Kampung Anggur Duyu Bangkit.
“ Awalnya coba-coba, ternyata hasilnya cukup baik. Bibit awal juga diberikan oleh ketua kelompok, ” tambahnya.
Keberhasilan Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit menunjukkan bahwa sinergi lintas sektor melalui GTRA Kota Palu mampu mengubah kawasan terdampak bencana menjadi wilayah yang produktif dan berdaya saing.
" Melalui penataan lahan, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat, Reforma Agraria terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal, " ungap Ibrahim. (RI)