5. Perbedaan dengan Starter Konvensional
Starter pada mobil start stop memiliki daya tahan lebih tinggi karena dirancang untuk bekerja berkali-kali dalam satu perjalanan. Starter konvensional tidak dirancang untuk siklus kerja seintens ini, sehingga tidak cocok jika dipaksakan menggunakan sistem serupa.
6. Pengaruh terhadap Konsumsi BBM
Dalam penggunaan harian, terutama di kota besar dengan lalu lintas padat, sistem start stop engine dapat membantu menghemat bahan bakar. Penghematan paling terasa saat sering berhenti dalam durasi cukup lama, seperti di lampu merah atau antrean panjang.
7. Dampak terhadap Emisi Gas Buang
Dengan mesin mati saat berhenti, emisi gas buang otomatis berkurang. Hal ini menjadi salah satu alasan utama pabrikan mengadopsi teknologi ini untuk memenuhi regulasi emisi yang semakin ketat.
8. Kekhawatiran terhadap Keawetan Mesin
Banyak pengguna khawatir mesin akan cepat rusak karena sering dimatikan dan dihidupkan. Kekhawatiran ini wajar, namun pada mobil yang memang dirancang dengan sistem start stop, komponen utama telah disesuaikan agar tetap awet.
9. Dampak pada Sistem Pelumasan
Saat mesin mati, sirkulasi oli berhenti. Namun pada mesin modern, sistem pelumasan dirancang agar lapisan oli tetap melindungi komponen mesin dalam waktu singkat. Proses start ulang juga berlangsung cepat sehingga risiko gesekan berlebih sangat minim.
Baca Juga: KGM Musso: Pikap Korea Tangguh dengan Torsi Besar Segini Tenaganya
10. Pengaruh terhadap Aki
Aki menjadi komponen yang paling terdampak karena bekerja lebih keras. Oleh karena itu, mobil start stop menggunakan aki khusus dengan daya tahan siklus tinggi. Penggunaan aki biasa dapat menyebabkan performa menurun dan usia pakai lebih singkat.
11. Kenyamanan Berkendara
Pada generasi awal, sistem start stop terasa mengganggu karena jeda saat mesin menyala kembali. Namun pada mobil modern, transisi hidup dan mati mesin berlangsung sangat halus sehingga hampir tidak terasa oleh pengemudi.