Masjid Lama Gang Bengkok Bukti Sejarah Peradaban Islam di Kota Medan

photo author
Administrator, Realitas Online
- Rabu, 28 April 2021 | 21:00 WIB

MEDAN - realitasonline.id | Masjid Lama Gang Bengkok yang merupakan salah satu warisan budaya Melayu dan bukti sejarah peradaban Islam di Kota Medan, Sumatera Utara.

Masjid yang terletak di Jalan Mesjid, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat yang mempunyai nama unik ini diambil dari tempat berdirinya pada masa lampau, yaitu di sebuah gang yang agak sempit pas dengan tikungannya, Jadilah diberi nama Masjid Bengkok. Tapi sekarang gang itu sudah diperluas jadi tidak terlihat bengkok lagi.

Masjid Lama Gang Bengkok ini menjadi masjid tertua kedua di Kota Medan setelah Masjid Al Osmani yang dibangun tahun 1854. Lalu di urutan ketiga ada Masjid Raya Medan atau Masjid Al Mashun yang dibangun pada tahun 1909.

BACA JUGA : Mesjid Al Huda Simanjambu Taput Inisiasi Bhabinkamtibmas

Sejarah dibangunnya masjid tersebut berawal dari seorang saudagar perantauan Tionghoa yang sukses di Tanah Deli berkeinginan untuk membangun sebuah masjid di daerah Kesawan pada tahun 1874. Karena Rumahnya juga tidak jauh dari area Masjid Lama Gang Bengkok. Saudagar itu adalah Tjong A Fie. Atas keinginannya dia meminta izin kepada Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alam.

Kemudian Sultan Deli pun mengizinkan niat baiknya. Dibangunlah sebuah masjid di atas tanah yang diwakafkan oleh Datuk Kesawan atau Haji Muhammad Ali dan semua biayanya ditanggung oleh Tjong A Fie atas dasar penghormatannya terhadap Muslim Melayu.

Setelah Masjid Lama Gang Bengkok ini selesai dibangun yang diperkirakan pada tahun 1885. Tjong A Fie menyerahkan masjid ini pada Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alam. Lalu Sultan Deli mengangkat seorang nazir untuk menjaganya yaitu kepada penasehat kerajaannya, Syekh Muhammad Yakub.

"Masjid ini dibangun oleh saudagar Tionghoa bernama Tjong A Fie. Tanahnya merupakan tanah wakaf dari Datuk Muhammad Ali, dibangun pada tahun 1874 hingga selesai," ungkap sekretaris badan kenaziran masjid lama gang bengkok Muchlis tanjung, saat ditemui usai solat ashar, Kamis (28/4/2021).

BACA JUGA : ALPPIND Sumut Silaturrahim ke FEBI UINSU Sekaligus Salurkan Paket Ramadhan

Melihat dari arsitekturnya, pada bagian atap masjid mirip klenteng. Gapura serta mimbarnya memiliki nuansa Melayu yang kental, terlihat dari warnanya yang khas kuning dan hijau. Sementara plafon masjid berupa ukiran kayu disebut "lebah bergantung". Tidak heran jika pemerintah menandai masjid ini menjadi cagar budaya.

"Masjid Lama Gang Bengkok ini beberapa kali mengalami renovasi untuk kenyamanan para jemaah, tapi tetap saja suasana khas tempat bersejarahnya tidak pernah sirna. Dan ornamen fisik bangunannya pun masih asli," jelas pria berdarah Minang tersebut.

Selain itu fasilitas di Masjid Lama Gang Bengkok ini hampir sama dengan masjid umumnya. Bisa menampung kurang lebih 2000 jemaah. Lalu juga ada pengajian untuk warga sekitar Kesawan yang terdiri dari berbagai etnis seperti Melayu, Jawa, Cina, Mandailing, Karo, dan Arab. Juga ada pekuburan di halaman belakangnya yang merupakan pemakaman keluarga Datuk Kesawan.

Di bulan Ramadhan ini banyak jemaah yang hadir untuk sekedar singgah sejenak menunaikan ibadah dan melihat-lihat keunikan masjid yang bernilai sejarah tersebut. Masjid lama gang bengkok bukan hanya sebagai tempat ritual peribadatan saja, namun masjid tersebut dipergunakan umat Islam untuk bermusyawarah. (AH)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X