"Benteng Huraba karya S. Baya, misalnya, punya riwayat sejarah di Kota Padangsidimpuan. Naskah itu pernah kami mainkan di panggung utama Taman Budaya Sumatra Utara," katanya.
Suyadi menyebutkan, naskah drama mesti ditulis dalam bahasa Indonesia yang literer (indah, menarik dan mengalir). Diperbolehkan menggunakan bahasa gaul dan bahasa lokal dalam segmen dialog para tokohnya (jika diperlukan).
Suyadi juga menuturkan, semua hasil karya yang telah dikirimkan peserta akan menjadi milik Sanggar Budaya GENERASI dan berhak menggunakan untuk kepentingan Sanggar dengan tetap mencantumkan nama penulis.
Ketentuan khusus lainnya, naskah harus asli (bukan saduran, bukan plagiat, merupakan karya sendiri) dan belum pernah dipublikasikan di media apapun.
Ketua Panitia Festival Sastra dan Peradaban, Zaim Dzaky Sanjaya menambahkan, naskah drama harus ditulis di fail ukuran A4, panjang 10--15 halaman, spasi 1,5, huruf Times New Roman ukuran 12, margin masing-masing 3 cm.
Naskah drama dan identitas mesti diunggah ke tautan bit.ly/3YY4MTI format Word, paling lambat tanggal 1 Oktober 2024 pukul 24.00 WIB.
"Naskah tidak mengandung SARA, tidak mendeskreditkan kelompok tertentu, tidak bertentangan dengan Pancasila dan NKRI," sebut mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Sumatra Utara seraya mengatakan, naskah pemenang beserta nomine akan dibukukan.
"Peserta wajib memfollow akun media sosial Sanggar Budaya GENERASI (facebook, instagram) dan subscribe kanal YouTube Sanggar Budaya GENERASI atas nama kanal Suyadi San (direktur program)," katanya lebih lanjut. (IP)