“Di kolam labuh dekat dermaga sandar itu umumnya tempat kapal berukuran besar berlabuh. Ada beberapa kapal nelayan dengan kapasitas kecil memaksakan diri untuk berlabuh di tempat itu, namun akibatnya kapal menjadi pecah dihantam ombak besar,” ujarnya.
Tidak ingin berlarut-larut dengan resiko kerusakan kapal yang lebih parah, pihaknya secara bersama-sama melakukan upaya pengerukan secara manual. Ada yang menggunakan linggis dan alat bantu lainnya untuk melakukan pengerukan dan memindahkan karang.
“Pengerukan secara manual oleh nelayan yang terdiri dari pemilik kapal dan anak buah kapal ini telah berlangsung sejak kemarin. Hari ini masih terus kami lakukan, dengan harapan kapal kami bisa berlabuh dengan aman,” tandasnya.
Misran nelayan lainnya mengaku khawatir dengan kondisi kolam labuh yang dangkal itu. Telah ada beberapa kapal milik nelayan yang rusak parah akibat dihantam ombak lantaran tidak memiliki tempat berlabuh yang aman. Tidak hanya dijadikan sebagai lokasi berlabuh, kawasan dimaksud juga dimanfaatkan oleh pemilik kapal untuk melakukan proses perbaikan kapal menjelang kegiatan melaut.
“Kapal kami bisa melewati kolam labuh ini untuk menuju lokasi perbaikan kapal, prosesnya juga secara manual. Sebab bangunan docking di kawasan PPI Ujung Serangga tidak bisa dimanfaatkan,” tuturnya.
Pihaknya akan berusaha sebisa mungkin agar kolam labuh tersebut bisa dalam dan dapat dimafaatkan untuk kapal nelayan berlabuh. Meski tingkat kedalamannya tidak sama dengan proses digali oleh alat berat, namun paling tidak kapal mereka bisa dengan aman berlabuh serta mudah untuk dinaikan ke darat guna proses perbaikan rutin.
“Kami juga berharap ada perhatian dan solusi dari pemerintah terkait kondisi dangkalnya kolam labuh ini,” harapnya.(R-Zal)