Kurs Rupiah Berharap Adanya Nada Dovish yang Disampaikan oleh Ketua Fed

photo author
Cut Yuliati, Realitas Online
- Sabtu, 27 Januari 2024 | 19:53 WIB
Kurs Rupiah Berharap Adanya Nada Dovish yang Disampaikan oleh Ketua Fed
Kurs Rupiah Berharap Adanya Nada Dovish yang Disampaikan oleh Ketua Fed

realitasonline.id - Pada perdagangan Jumat (26/1/2024) kurs rupiah di akhir pekan ini terpantau ditutup melemah sekitar 1,34% secara mingguan ke level Rp 15.825 per dolar AS di pasar spot.

Baca Juga: Review Kurs Rupiah Melemah Hingga 1,34% dari Rp15.615 Per Dolar AS di Perdagangan Pekan Ini

Di mana kurs rupiah tampil mengecewakan belakangan ini, hingga menembus level Rp 15.800 per dolar Amerika Serikat (AS).

Menanggapi hal tesebut, Research And Development PT. Handal Semesta Berjangka, Alwy Assegaf mencermati, kurs rupiah sebenarnya tidak bisa berbuat banyak.

Baca Juga: Kurs Rupiah Spot Menguat Tipis 0,006% Bertengger di Level Rp15.825 Per Dolar AS Jelang Akhir pekan

Pasalnya, tekanan memang sangat besar dari dolar AS yang terus melaju berkat dukungan data-data ekonomi terkini.

Dia menjelaskan, Indeks Dolar AS (DXY) sendiri terlihat baru-baru ini mencapai level tertinggi 6 minggu.

Ini dipicu sentimen yang menguatkan aset safe haven seperti dolar AS dan ekspektasi The Fed memangkas suku bunga di awal tahun ini yang perlahan memudar.

Baca Juga: Kurs Rupiah Menguat 0,04% Berada di Level Rp15.819 Per Dolar AS di Perdagangan Jumat (26/1/2024) Siang Ini

Data-data ekonomi Amerika terakhir menunjukkan lapangan kerja dan inflasi mulai naik lagi. Kemudian data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2023 yang meningkat 3,3%, masih berada diatas ekspektasi pasar sekitar 2%

“Data ekonomi AS menguatkan pandangan bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga di bulan Maret 2024, seperti yang diinginkan pasar sebelumnya,” ujar Alwi kepada Kontan.co.id, Jumat (26/1).

Di mengeaskan, ekspektasi pasar menurun yang tercermin dari probabilitas The Fed menurunkan suku bunga berada di bawah 50% atau tepatnya 48,1% berdasarkan laporan CME Fedwatch.

Di samping itu, penguatan dolar AS berkat dorongan dari kenaikan Yield US Treasury tenor 10 tahun yang berada di atas 4%.

Kondisi tingginya Yield obligasi dapat menarik lebih banyak dana investasi ke negara tersebut, yang berdampak pada penguatan dolar AS.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Cut Yuliati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

CPNS ATR/BPN Dibekali Komunikasi Publik

Rabu, 15 April 2026 | 19:49 WIB
X