Realitasonline.id – Jakarta | Lagi marak-maraknya perkembangan kecerdasan AI (Artificial intelligence), Mendikdasmen Abdul Mu’ti bilang perlu etika sehingga mampu beradaptasi, di Ballroom Gedung IKA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta, Sabtu (24/1).
“Kecerdasan artifisial kini telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Namun, penguasaan AI harus dibarengi dengan digital competence dan digital civility atau keadaban digital," jelasnya.
"Tanpa etika, pemanfaatan AI justru bisa memunculkan persoalan sosial baru,” imbuh Abdul Mu’ti.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara kunci dalam Karangmalang Education Forum: AI dan Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua yang diikuti sekitar 800 alumni UNY secara luring dan daring.
Baca Juga: All-New Isuzu D-Max 2025 Hadir dengan Pembaruan Menyeluruh, Siap Hadapi Medan Ekstrem
Menurutnya kontroversi dibanding saat ini AI sangat berpotensi menggantikan beberapa jenis pekerjaan, bahkan teknologi ini juga membuka banyak peluang baru.
“Yang paling terdampak adalah mereka yang tidak menguasai teknologi. Sebaliknya, mereka yang mampu memanfaatkan AI akan semakin berdaya. Di sinilah pendidikan memegang peran strategis agar generasi muda tidak tertinggal,” tegasnya.
Menurutnya, AI bekerja dengan menghimpun dan merangkum data yang diunggah manusia. Jika data yang digunakan tidak akurat atau tidak etis, maka hasil yang dihasilkan AI berpotensi menyesatkan.
Baca Juga: Terbaru! Isuzu D-Max LSE 3.0LTD: Performa Off-Road Tangguh, Interior Modern, dan Tampilan Menyeluruh
“AI bisa sangat cerdas, tetapi tidak memiliki hati dan kesadaran moral. Karena itu, tanggung jawab manusialah untuk memastikan bahwa informasi yang diunggah, diproduksi, dan disebarkan melalui AI adalah sesuatu yang benar dan baik,” katanya.
Selain itu, Abdul Mu’ti menyinggung maraknya manipulasi digital, seperti pemalsuan gambar, suara, dan narasi, yang dapat merusak reputasi seseorang.
Di era scroll society, ketika masyarakat cenderung membaca secara cepat dan dangkal, konten manipulatif semacam ini mudah dipercaya dan disebarluaskan.
“Oleh karena itu, etika, tata krama, dan literasi digital harus menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan kita,” tambahnya.
Baca Juga: Terbaru! Isuzu D-Max LSE 3.0LTD: Performa Off-Road Tangguh, Interior Modern, dan Tampilan Menyeluruh