Peran Akademisi Minim hadapi Persoalan Nyata di Masyarakat, Ini Pesan Rektor USU kepada 1.843 Wisudawan baru Dilantik

photo author
Ayu Kesuma Ningtyas, Realitas Online
- Kamis, 19 Februari 2026 | 08:18 WIB
 Rektor USU Prof Muryanto Amin saat prosesi wisuda 1843 sarjana. (Realitasonline.id/Dok)
Rektor USU Prof Muryanto Amin saat prosesi wisuda 1843 sarjana. (Realitasonline.id/Dok)

 

Realitasonline.id - MEDAN | Kesenjangan antara teori dan praktik masih sering terjadi dalam dunia pendidikan, kondisi ini membuat persoalan di tengah masyarakat kurang teratasi karena minimnya peran para akademisi dalam memecahkan persoalan-persoalan yang nyata di sekitarnya.

Karenanya, Rektor USU Prof Muryanto Amin berpesan kepada para wisudawan setelah lulus untuk terus belajar tanpa henti dalam memahami banyak hal, berani mengambil keputusan dan secara berkelanjutan meningkatkan potensi konstruksi berpikir sistematis tentang pengetahuan teori yang diselaraskan dengan keterampilan teknis untuk menjawab permasalahan yang ada.

“Seorang yang terdidik dan lulusan dari perguruan tinggi selalu diharapkan memiliki dua kemampuan itu yang tidak terpisahkan. Atas dasar itulah, tema wisuda hari ini yang disampaikan adalah From Theory to Action: Mengatasi Kesenjangan dan Membentuk Nilai Baru dalam Transformasi Peradaban,” ujar Prof. Mury di hadapan 1.843 wisudawan yang mengikuti prosesi pelantikan, Jumat (14/02/2025) di Auditorium USU.

Baca Juga: DPRD dan Pemkot Bogor Perkuat Kamtibmas sambut Ramadhan 1447 H

Rektor USU menjelaskan, perubahan dunia kerja saat ini tidak hanya terlihat dari munculnya teknologi baru, tetapi juga dari perubahan keterampilan apa yang paling dibutuhkan. Keterampilan inti yang paling dibutuhkan di masa depan bukan semata-mata kemampuan teknis, melainkan kemampuan manusia dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.

“Dunia kerja tidak hanya mencari individu yang cerdas secara akademik, tetapi mereka yang mampu berpikir jernih, beradaptasi dalam tekanan, memimpin, bekerja dengan orang lain, serta memahami diri dan lingkungannya,” katanya.

Dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya tahu, tetapi mampu mengambil keputusan dan bertindak secara nyata agar tidak ada lagi kesenjangan antara teori dan praktik.

Prof Mury mencontohkan penerapannya kepada perusahaan Starbucks, sebuah perusahaan global dengan ribuan gerai yang tersebar di seluruh dunia dan setiap hari menetapkan jutaan keputusan kecil yang menentukan keberlangsungan bisnisnya.

Baca Juga: Kejari Binjai Tetapkan Mantan Kadis Ketapang dan Pertanian Kota Binjai Jadi Tersangka

“Ketika Starbucks menghadapi tekanan besar, pertumbuhan yang melambat dan tantangan operasional yang semakin kompleks, mereka mengambil langkah yang pada saat itu, terasa masuk akal. Perusahaan menunjuk seorang CEO dengan latar belakang konsultan strategi global yang sangat kuat dalam analisis dan perumusan arah bisnis,” katanya.

Setiap berada di ruang rapat selalu terlihat arah perusahaan yang jelas, strategi yang tersusun rapi, dan indikator ideal, serta lini masa yang teratur. Namun persoalan Starbucks tidak berada di ruang rapat. Persoalannya ada di gerai, di antrean pelanggan, dan di ritme kerja sehari-hari. Proses layanan melambat dan pelanggan menurun di seluruh gerainya.

“Keputusan yang sangat logis di tingkat strategi ternyata tidak sepenuhnya menjawab masalah yang langsung dialami oleh setiap gerai. Bukan karena strateginya salah, tetapi karena jarak antara pengambil keputusan dan realitas lapangan terlalu jauh,” urainya.

Baca Juga: BMW Parkir, Sabu Nongol: Satresnarkoba Polres Batubara Ringkus ABM di Seisuka

Prof. Mury mengatakan, nilai perusahaan mengalami penurunan yang signifikan dalam waktu yang singkat. Peristiwa itu, membuat Starbucks belajar bahwa pada fase tertentu, organisasi tidak hanya membutuhkan pemikir yang cerdas, tetapi pemimpin yang memahami lapangan. Starbucks kemudian menyadari bahwa kepintaran saja tidak cukup, organisasi membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berpikir, tetapi juga berani mengeksekusi keputusan, dan bertanggung jawab atas dampak yang terjadi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ayu Kesuma Ningtyas

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X