Untuk memenuhi kebutuhan ekspor keripik singkong, menurut Muhdi, butuh areal lahan tanaman singkong sekira 60 hektar, tidak perlu disatu lokasi tapi bisa diberbagai lokasi/daerah, karena dari petani sendiri masih belum kontinu menanam singkong. " Petani itu malas menanam lagi, karena biaya tanam dengan harga jual tidak sebanding. Pertama kali dibuat itu harganya Rp 1000 per kg, sementara biaya produksi sudah Rp 800 sehingga petani cuma dapat Rp 200," ujarnya.
Masalah penanaman singkong, ayah sepasang anak ini pernah mengusulkan kepada pemerintah kabupaten agar membantu menggerakan petani menanam singkong, tapi masalahnya terkadang petani tidak konsisten. Padahal soal harga dan jumlah sudah kita tentukan, petani tinggal mengolah aja tapi di lapangannya agak sulit juga. Diharapkan pemerintah ikut memikirkan soal lahan agar tidak hanya fokus pada jagung. "Mana tahu ada lokasi lahan tidur yang belum terealisasi, dapat dimanfaatkan tanam singkong agar pembelian singkong bisa langsung ke petani, tidak lagi melalui agen," harapnya.
Baca Juga: Indonesia Kembali Taklukan Curacao Melalui Ekspor Perdana 27 Ton Singkong Beku
Kendala lain menyangkut yang dihadapi masalah transportasi kapal atau pengapalan kontainer keripik singkong dieskpor keluar, karena harus antri menunggu lama, akan mengganggu kualitas barang apalagi barang makanan.
Eksportir keripik singkong ini berharap pemerintah lebih memperhatikan pelaku usaha UMKM yang sudah naik level ketingkat ekspor membantu promosikan produksi dalam negeri ke luar. " Jika ada pameran produk Indonesia ke luar negeri agar fokus pada satu produk unggulan di Indonesia. Contoh kalau kripik event-nya yang dipamerkan segala jenis kritiknya. Jangan pengusaha kripik dimasukan dalam event promosi tenunan produksi Indonesia atau produksi kopi. Kalau evennya kopi yang ditampilkan kopi saja, jangan dicampur baur. Kemudian pemerintah sudah harus mengantongi nama dan Nomor kontak pengusaha, agar lebih mudah ketika ada event yang akan dilakukan," ujarnya..(Mis/MeryIs)