Lewat Kripik Singkong 'Kreasi Lutvi', Eksportir Muhdi Merangkak Dari Deli Serdang Merambah Korea Selatan

photo author
Mery Ismail, Realitas Online
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 11:56 WIB
Eksportir kripik singkong aneka rasa Muhdi dan pegawai saat melakukan penggorengan (Realitasonline.id/mis)
Eksportir kripik singkong aneka rasa Muhdi dan pegawai saat melakukan penggorengan (Realitasonline.id/mis)

 

Realitasonline.id - Deli Serdang | Cemilan kripik siapa yang tidak doyan (suka-red), tidak hanya anak muda tapi juga semua usia. Banyak jenis kripik sangat digandrungi, mulai dari kripik kentang, kripik jagung hingga kripik singkong atau ubi dikemas dengan bagus, sehingga terlihat snack berkualitas.

Peluang besar pengumpul dolar tidak dilewatkan begitu saja. Sebelum mengawali usaha, salah seorang pujakesuma (putra jawa keluyuran Sumatera) datang ke Sumatera Utara tahun 90-an bekerja sebagai kebersihan masjid di Medan sampai tahun 2000. Tanpa pengalaman Dia harus merangkak memulai bisnis keripik singkong ditahun 2001-2003, menjadi pengusaha kripik kecil-kecilan dengan membuat kripik singkong 5 kg, tapi sepertinya kurang berhasil, karena tidak terampil, sehingga singkong digoreng kurang diminati.

“Mungkin latar belakang pendidikan saya sarjana agama, jadi tidak tahu cara pembuatan kripik singkong. Pertama kali menggoreng, kadang masak, kadang gosong, Tetangga protes dan kasi saran kalau mau dijual jangan kayak begini. Kalau putih, putih semua jangan ada merah sampai merah kali kalau merah kali katanya nanti enggak laku,” ungkapnya mengaku sebagai Pujakesuma (putra jawa keluyuran sumatera).

Baca Juga: Gebyar Muharram Langkat, Ada Kripik Cinta dan Dukungan Syah Afandin-Rizky Yunanda Pimpin Langkat 2024-2029

Pada akhirnya pria murah senyum ini pulang kampung di Jawa Tengah tahun 2007, melihat usaha kripik singkong menggunakan mesin pemotong ubi dengan banyak tenaga kerja. Dengan niat yang kuat mengembangkan usaha kripik singkong dengan membeli mesin pemotong untuk dibawa ke rumahnya Tuntungan Kecamatan Pancurbatu Deliserdang-Sumut (tempat usaha pabrik pembuatan keripik singkong).

Bersamaan itu, tahun 2005 usaha mulai berkembang dan menggunakan tenaga kerja lingkungan pabrik. Semua dikerjakan sendiri, mulai dari menggoreng, mengemas dan memasarkan disekolah-sekolah dan ditahun 2010 mulai merambah ke pasar modern seperti Indomaret dan membuka toko snack. Tapi kalau Indomaret tidak bertahan lama, karena sistemnya koordinasi dan jangka waktunya itu sampai 14 hari, bisa juga 3 bulan. Bahkan sudah masuk berbulan-bulan, belum dapat yang namanya profit.

Kemudian tahun 2015 mulai memasarkan ke Korea Selatan perkembangan pertama 1 kilo. Sejarahnya gini ada orang Korea yang main bola Golf. Kedinya sering beli satu kg setiap minggu, tapi dari pabrik dikasi 2 bungkus (1 untuk orang korea dan satu lagi bonus untuk keluarganya). Ternyata kedi itu memberikan dua kilo, maksudnya uangnya untuk biaya tambahan.

Baca Juga: Seorang Terduga Teroris di Sumut Ternyata Penjual Kripik

Budaya orang luar tidak mau nyimpan makanan di rumah, sehingga yang 1 kilo dikonsumsi dan sekilo lagi dikirim kekeluarganya di Korea Selatan. Ternyata saat kripik singkong dirasa, keluarga di Korea heran ada crispy. Kebetulan bapaknya di Korea Selatan jualan buka supermarket, pembelinya dikasih produk kripik singkong, ternyata banyak yang berminat di Korea. Selama ini orang luar taunya snack keripik kentang.

Setelah adanya bimbingan dan wawasan dari kelompok UMKM Sumut, usaha kripik singkong tergabung dalam Gapoktan Mamdiri Sejahtera mulai serius, diawali dari menjual kepada orang Korea yang akhirnya dimulailah kesepakatan bersama pengiriman kripik singkong ke Korea Selatan, tidak dalam bentuk kemasan. Pengiriman pertama 17 kotak (17 kg) lewat kantor Pos dengan harga Rp 50.000, ternyata ongkos kirim sampai Korea melalui kantor Pos biaya 1 kotak Rp 350.000, sementara barangnya cuma Rp 50.000, ternyata ongkos kirim lebih mahal dari harga barang yang dikirim.

Disituasi seperti itu, seharusnya pemerintah daerah memberi kemudahan dan dukungan dari segala lini, agar bisa lancar usahanya, karena dari usaha tersebut, banyak tenaga kerja yang ditampung membantu pemerintah mengatasi pengangguran. Apalagi ekspor kripik singkong ke Korea Selatan dimulai sejak tahun 2015 dan tahun 2019 mulai ekspor ke Malaysia, ketika itu ekspor melalui PT orang lain, tapi sekarang sudah punya PT sendiri diberi nama UD Kreasi Lutvi kripik singkong aneka rasa diekspor sendiri tanpa pihak ketiga. Sedangkan untuk dalam negeri, produksi keripik singkong Lutvi' dipasarkan di supermarket, Indomaret dan pasar modern, juga membuka toko sendiri di Tuntungan Kecamatan Pancurbatu Deli Serdang.

Baca Juga: Cara Menanam Singkong yang Benar Bahkan Menghasilkan Umbi Besar dan Lebat Hanya dengan Teknik Ini, Mulai menyiapkan Bibit Sampai Panen

Namun yang menjadi kendala saat ini bahan baku (singkong) masih belum memenuhi kebutuhan, karena singkong yang dibutuhkan untuk ekspor keripik 5-6 ton per hari, dengan bahan baku 120 ton singkong per hari, sementara belum ada jaminan dari petani untuk menyediakan bahan baku." Selama ini bahan baku singkong masih didominasi dari Deli Serdang dan Sergai hanya sebagian, sebagian lagi ditanam singkong untuk tepung tapioka," ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mery Ismail

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

‎Bupati Taput Sumbang Saran Inovasi PPID APKASI

Sabtu, 18 April 2026 | 11:40 WIB
X