“ Jadi kita tidak hanya berbicara terkait pembersihan dan penjemuran arsip, tetapi bagaimana data tersebut bisa segera menjadi data digital. Kita berharap kantor pertanahan yang terdampak dapat bangkit kembali menjadi kantor pertanahan modern yang mampu melayani secara digital, ” tambahnya.
Sementara itu, Kepala ANRI, Mego Pinandito, menegaskan, penyelamatan arsip memerlukan ketelitian dan koordinasi yang kuat karena setiap tahap pengerjaan harus dilakukan secara hati-hati.
Menurutnya, ANRI telah menurunkan tenaga profesional yang bekerja bersama jajaran BPN daerah untuk memulihkan arsip-arsip yang terdampak bencana.
“ Penanganan arsip tidak bisa dilakukan sendirian. Kita harus bersama-sama membangun kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, BNPB, serta berbagai pihak lainnya agar arsip negara yang menyimpan jejak hak masyarakat tetap terselamatkan, ” ujarnya. (RI)