Remaja putri yang rutin minum TTD dan bebas anemia, ketika sudah dewasa dan hamil kelak bisa menjalani kehamilan yang sehat dan minim risiko komplikasi kehamilan.
Selain itu, bayi yang dilahirkan kelak bisa tumbuh sehat, lahir dengan berat badan ideal, sampai mencegah bayi yang dilahirkan tumbuh dengan masalah gizi stunting.
Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023 tercatat prevalensi stunting di Sumut telah mengalami penurunan hingga mencapai angka 18,9% dan berada di bawah rata-rata nasional sebesar 21,5%.
Fatoni berharap, melalui Gerakan Serentak Pemberian TTD maka prevalansi stunting di Sumut bisa turun menuju target nasional sebesar 14% pada tahun 2024. Namun, langkah-langkah strategis tetap diperlukan, terutama yang berfokus pada upaya pencegahan dimulai dari hulu ke hilir, yakni remaja itu sendiri.
"Gerakan ini dibuat untuk bersama-sama agar generasi muda Sumut sehat dan bersama melawan stunting, untuk mencegah lahirnya bayi-bayi yang tidak sehat. Bayi yang sudah terlahir stunting kita Atasi, yang belum lahir kita cegah dengan melakukan pola hidup sehat dan konsumsi makanan bergizi. Karena kita ingin penerus kita adalah generasi unggul untuk Indonesia emas 2045," jelasnya.
Selain Gerakan Serentak Pemberian TTD juga dilakukan layanan kesehatan skrining anemia, skrining kesehatan mental serta penandatangan komitmen bersama mendukung Gerakan Aksi Cegah Stunting.
Penandatanganan ini diawali oleh Pj Gubernur Sumut Fatoni, Pj Ketua PKK Sumut Tyas Fatoni, Ketua DWP Sumut Dian Arief S Trinugroho, Kepala Perwakilan BKKBN Sumut Munawar, OPD jajaran Pemprov Sumut, Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Medan Mukhlis, para guru dan seluruh siswa-siswi SMA Negeri 3 Medan.