Wisata Mangrove Tanjung Rejo Satu-satunya di Deli Serdang tapi Terabaikan

photo author
Ayu Kesuma Ningtyas, Realitas Online
- Senin, 15 Mei 2023 | 09:31 WIB
Lokasi Wisata Mangrove Tanjung Rejo Kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deli Serdang.  (Realitasonline.id/ IW)
Lokasi Wisata Mangrove Tanjung Rejo Kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deli Serdang. (Realitasonline.id/ IW)

"Keberadaan wisata mangrove bisa mengangkat potensi yang ada saat ini terbukti telah masuk nominasi 500 besar desa wisata se-Indonesia. Untuk Kabupaten Deli Serdang, Tanjung Rejo menjadi satu-satunya desa yang tersentuh langsung dari 9 desa yang ditetapkan sebagai desa wisata di wilayah pesisir di samping Desa Pematang Johar (Kecamaran Labuhan Deli) dan Desa Selemak (Kecamatan Hamparan Perak," jelasnya.

Baca Juga: Senin 15 Mai 2023 PPDB Online Di Sumatera Utara Dibuka, Simak Pembagian Kuotanya Jika Ingin Lolos

Didampingi pengurus Bumdes setempat, lebih jauh Kades Selamet menjelaskan, kalau hutan mangrove cukup luas yaitu 600 hektar, sawah irigasi 704 hektar, tadah hujan 600 hektar, tambak alam (empang parit) seluas 300 hektar.

Untuk mengembangkan wisata mangrove Tanjung Rejo ini perlu sekali dukungan dari banyak pihak terutama dari pemerintah melalui dinas terkait.

Dukungan infrastruktur tak kalah penting dalam mengelola dan mengembangkan wisata mangrove di Tanjung Rejo. Lagi-lagi pembangunan infrastruktur merupakan juga salah satu persoalan besar yang dihadapi Kades Selamet.

Untuk menunjang pengembangannya, Sepanjang 50 km ruas jalan menuju lokasi wisata mangrove yang harus dibenahi. Amatan Realitasonline.id di lokasi, sepanjang perjalanan mengambil titik dari titi panjang menuju lokasi pantai mangrove counter jalannya masih memprihatinkan berupa jalan tanah bercampur bebatuan.

"Persoalan infrastruktur menjadi salah satu hal terpenting yang harus dibenahi. Hal ini juga menyangkut anggaran, ada jalan desa, kabupaten dan jalan provinsi. Ada sepanjang 50 km infrastruktur yang harus dibenahi. Tanpa adanya dukungan infrastruktur yang memadai maka potensi wisata mangrove akan terabaikan begitu saja," kata Kades Selamet.

Persoalan yang tak kalah penting lainnya bilang Kades Selamet adalah masalah limbah. Seperti diketahui Paluh Merbau posisinya tempat pembuangan limbah. Karena pencemaran limbah banyak ikan mati dan punah. Kerang batu yang biasanya manis jadi pahit, kepiting banyak yang mati.

"Persoalan limbah merupakan persoalan nasional. Saat saya kecil, setidaknya 25 ekor ikan lumba-lumba terlihat lewat setiap hari. Namun sekarang, ikan sembilang pun tak ada," ungkapnya.

Kepada anggota BPD, dia berharap bisa membantu untuk menyampaikan di setiap kesempatan khususnya kepada pemerintah daerah untuk memberi perhatian kepada Desa Tanjung Rejo terhadap pengembangan wisata mangrove.

"Tidak semua desa mempunyai persoalan sama. Ke depan bagaimana BPD bisa mengerti apabila Desa Tanjung Rejo mendapat kucuran Dana Desa lebih besar dari desa lain maka BPD diminta legowo," harapnya.

Baca Juga: Real Madrid Menang 1-0 Lawan Getafe, Langsung Naik Peringkat 2

Dia berharap wisata mangrove Tanjung Rejo sebagai kawasan yang diminati untuk dikunjungi oleh wisatawan mendapat dukungan dari semua pihak.

Dikatakan Kades Selamet, saat ini BUMDes Tanjung Rejo juga mengelola batik mangrove. Getah yang dihasilkan dari kulit kayu mangrove dimasak menjadi tinta sebagai bahan membuat kain batik.

"Perlahan kami sudah bisa menghasilkan PAD dari BUMDes Rp1 juta per bulan yang sebelumnya Rp676 ribu. Walaupun sedikit, tapi bisa merangsang untuk terus berusaha mengembangkan usaha yang dilakukan BUMDes," ujar Kades.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ayu Kesuma Ningtyas

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Unggulan Pejabat Kadis Pertanian dan Ketapang Taput

Jumat, 23 Januari 2026 | 11:49 WIB

PTPN1 Regional 1 Sembelih 13 Lembu, 4 Kambing

Minggu, 8 Juni 2025 | 06:46 WIB
X