Jakarta - Realitasonline.id| Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI Nadiem Makarim mengatakan adanya tes Calistung saat masuk SD buruk bagi anak-anak. Namun, bukan berarti tidak boleh diajarkan di usia dini.
"Penerimaan ada tes Calistung itu keterlaluan, berarti SD lepas tangan ke PAUD, padahal itu kewajiban mereka, bukan berarti juga tidak boleh diajarkan Calistung, namun harus dengan cara menyenangkan," kata Nadiem Makarim di acara Komitmen Bersama Bunda PAUD Mendukung Gerakan Transisi PAUD ke SD, belum lama ini.
Dirjen PAUD Iwan Syahril menjelaskan ada tiga yang menjadi perhatian dalam gerakan transisi ini. Hal pertama adalah mengahapuskan tes Calistung saat masuk SD, kemudian masa perkenalan selama 2 minggu dan terakhir pembelajaran holistik fokus pada 6 pondasi anak.
Baca Juga: 2 Perguruan Tinggi Swasta di Kota Medan Ini Tidak Diizinkan Terima Mahasiswa Baru Lagi
Keenam pondasi anak tersebut yaitu agama dan budi pekerti, kematangan emosional, keterampilan sosial, memaknai belajar, keterampilan motorik dan kematangan kognitif. "Ini harus kita dorong ke semua SD untuk menyelesaikan masalah fundamental pendidik anak-anak," kata Iwan Syahril.
Sementara dosen Psikologi Universitas Indonesia sekaligus Psikolog Anak, Lucia Royanto menyebutkan bahwa calistung bukanlah hal pertama yang harus anak kuasai pada masa transisi PAUD ke SD. Menurutnya, terdapat enam kemampuan yang merupakan pondasi dan harus dikuasai oleh anak pada masa tersebut.
Pertama adalah kemampuan mengenal agama dan budi pekerti. "Yang pertama ada mengenal agama dan budi pekerti, itu dimulai dengan cara yang sederhana misalnya menyenangi diri sendiri," terang Lucia dalam siaran YouTube Kemendikbud.
Baca Juga: 60 Pejabat Administrator dan Fungsional Dilantik, Sekda Paluta Minta Ini
Hal kedua yang merupakan kemampuan pondasi penting pada anak menurutnya adalah keterampilan sosial dan bahasa untuk dapat berinteraksi secara sehat. Sementara, yang ketiga yakni kematangan emosi anak saat melakukan kegiatan di lingkungan sekolah.
"Ketiga adalah kematangan emosi agar anak itu bisa berkegiatan di lingkungan belajar karena kita tahu ketika anak itu belajar dia juga harus mempertahankan atensinya atau perhatiannya, dia juga harus bertahan pada tugas yang dibebankan pada dia, dan sebagainya," ujar Lucia.
Kemampuan keempat adalah pengembangan keterampilan motorik, dan perawatan diri sendiri agar anak bisa mandiri di lingkungan sekolahnya dan kelima adalah kematangan kognitif.
Baca Juga: Ini Pesan Gubernur Edy Rahmayadi Kepada ICMI Muda Sumut: Provinsi Sumut Menanti Gebrakan Kalian
Pada poin kelima, Lucia menyebut bahwa calistung merupakan contohnya. Ia menegaskan bahwa kekeliruan bisa terlihat pada praktik pengadaan calistung pada tes masuk SD yang sebenarnya bukan merupakan pondasi pertama anak dalam belajar.
"Dan yang kelima adalah kematangan kognitif. Jadi kalau kita lihat kematangan kognitif itu kelima lho bukan yang pertama itu jadi enggak tepat," jelas Lucia.