8.Guarani (Paraguay)
Paraguay sedang mengalami penurunan ekonomi yang parah karena inflasi yang tinggi, pengangguran yang tinggi, meningkatnya kemiskinan dan korupsi. Faktor-faktor ini berdampak negatif terhadap nilai mata uang.
Baca Juga: Benarkah Air Selada Bisa Membuat Tidur Lebih Nyenyak? Ini Penjelasan dari Penelitian
9. Shilling (Uganda)
Uganda mengalami beberapa kemunduran pada masa pemerintahan Idi Amin. Kebijakan pemerintah, termasuk kebijakan imigrasi, berdampak negatif terhadap perekonomian negara. Dampaknya terus mempengaruhi pembangunan negara. Namun, dalam beberapa tahun terakhir nilainya telah meningkat, tetapi tidak lebih dari 5% dari total devaluasi.
10. Dinar (Irak)
Mata uang Irak dikeluarkan oleh bank sentral negara tersebut dan dibagi menjadi 1.000 fils. Sejak tahun 1990-an, inflasi telah menyebabkan penurunan nilai Fili. Dalam dekade terakhir, negara ini juga menghadapi ketidakstabilan politik. (TRI)