Hujan meteor juga tidak mengakibatkan lapisan ozon menipis karena meteor akan habis terbakar oleh atmosfer bumi sebelum sampai ke permukaan bumi.
Adapun meteor yang dianggap berpotensi bahaya adalah meteor yang berukuran lebih dari 140 meter dengan jarak perpotongan orbit minimal sekitar 5 juta km.
Baca Juga: Luar Biasa Pemdes Bagan Kuala Gelar Turnamen Sepak Bola Kiyam Liga Pasang Mati
Jika ada sisa meteor besar menghantam ke tanah, biasanya akan memuncuy lubang ataupun sebuah kawah.
Menurut situs Langit Selatan, perkiraan 100 meteor akan melintasi setiap jam dan terlihat datang dari rasi perseus.
Lokasi yang bisa dilihat, yaitu bebas polusi cahaya. Pengamat juga bisa menyaksikan setidaknya 50 sampai 75 meteor setiap jamnya.
Baca Juga: Bagikan 720 Bendera Merah Putih Ke Kapal-kapal Nelayan, Danrem 011/LW: Kibarkan di Laut
Perseus baru terbit pada tengah malam, yaitu sekitar pukul 00.16 WIB dari arah timur laut.
Sementara, bulan sabit akan muncul dini hari sekitar pukul 03.30 WIB. Tetapi, tetap tak menjadi pengganggu hujan meteor perseid.
Hujan meteor ini memiliki intensitas di Indonesia sebanyak 36 sampai 61 meteor per jam.
Baca Juga: 70 Persen Masyarakat Hidup Dari Pertanian, Bupati : Simalungun Butuh Hilirisasi
Fenomena hujan meteor tidak berbahaya dan bisa diamati secara langsung.
Walaupun demikian, menurut BRIN hujan meteor akan efektif terlihat ditinjau dari kawasan yang bebas dari tutupan awan ataupun polusi udara.
Cuaca yang cerah diperlukan agar bebas dari tutupan awan.
Kemudian, terbebas dari cahaya ataupun cahaya buatan dari aktivitas manusia. Karena hal tersebut bisa menghalangi penglihatan.