Penulis: Tafrina Ginting, S.Kep, Ns & Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS (Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara)
Realitasonline.id - Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang berbahaya dan sering disebut sebagai silent killer selain penyakit jantung.
Penyakit diabetes melitus atau yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit “kencing manis” merupakan suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan dapat berkembang menjadi komplikasi.
Komplikasi jangka lama termasuk penyakit jantung, gagal ginjal, kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, kerusakan saraf dan ganggren dengan risiko amputasi.
Baca Juga: Diabetes di Usia Muda: Fakta dan Langkah Pencegahan yang Harus Dilakukan Sekarang
World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 422 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit diabetes dengan sebagian besar tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Sementara itu, International Diabetes Federation (IDF) mendata bahwa prevalensi diabetes diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 578 juta di tahun 2030 dan 700 juta di tahun 2045.
Wilayah Asia Tenggara khususnya Indonesia berada, menempati peringkat ke-3 dengan prevalensi sebesar 11,3%, dan menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara dari 10 negara dengan jumlah penderita tertinggi sehingga dapa diperkirakan besarnya kontribusi Indonesia terhadap prevalensi kasus diabetes di Asia Tenggara.
Penatalaksaan diabetes terdiri dari empat pilar yang diantaranya pengelolaan terapi farmakologis yaitu pemberian insulin dan obat hipoglikemik oral, sedangkan non-farmakologis meliputi pengendalian berat badan, latihan fisik dan diet.
Baca Juga: HUBUNGAN SENAM KAKI DENGAN NYERI KAKI DIABETIK PADA PENDERITA DIABETES MELITUS NEUROPATI
Namun, pada umumnya penderita diabetes hanya menjaga diit makanan dan mengonsumsi obat penurun kadar gula darah sebelum dan sesudah makan, sehingga seringkali melupakan latihan fisik sebagai upaya dalam pencegahan komplikasi diabetes.
Latihan fisik merupakan upaya awal dalam mencegah, mengontrol dan mengatasi meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Salah satu latihan fisik yang dianjurkan adalah senam kaki. Senam kaki adalah kegiatan yang ditujukan untuk pasien diabetes untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki.
Tujuan senam kaki untuk memperbaiki sirkulasi darah sehingga nutrisi ke jaringan lebih lancar, memperkuat otot-otot kecil, otot betis, dan otot paha serta membantu mengatasi keterbatasan gerak sendi yang sering dialami oleh pasien diabetes.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melaksanakan senam kaki diabetes yaitu senam dilakukan pada penderita diabetes melitus yang mengalami gangguan sirkulasi di kaki tanpa komplikasi ganggren.