Baca Juga: Bawaslu Taput Gencarkan Kampanye Stop Money Politik
Dalam paparannya, Ferdy menekankan pentingnya peran foto dalam menyampaikan pesan kepada publik, terlebih di era digital.
“Untuk era ke depan, digitalisasi akan mendominasi. Sebagai jurnalis, kita punya tanggung jawab untuk tidak menyebarkan hoax dengan menggabungkan atau mengubah foto demi kepentingan tertentu,” tegas Ferdy.
Ia juga mengingatkan bahwa foto jurnalistik adalah hasil perpaduan antara teks dan gambar, yang harus mampu menghadirkan narasi visual yang lengkap dan sesuai dengan unsur 5W1H—layaknya berita tertulis.
“Foto jurnalistik memiliki tanggung jawab besar dalam menyajikan kebenaran. Kita selaku insan pers punya kewajiban untuk menetralisir foto hoax dan menjaga etika saat mengambil foto. Ada beberapa tempat yang diperbolehkan, dan ada juga yang tidak diperbolehkan untuk mengambil foto,” lanjutnya.
Ferdy juga menekankan pentingnya "nilai kejut" dalam sebuah foto jurnalistik. "Foto itu harus punya nilai kejut, yakni pembaca harus bisa merasakan emosi dari foto kita," jelasnya.
Baca Juga: Sampaikan Keluhan Kepada Gus Irawan, Warga 4 Desa di Angkola Barat Tapsel Inginkan Perubahan
Menurutnya, inilah yang membedakan foto jurnalistik dari sekadar gambar dokumentasi.
Selain memberikan wawasan etika dan teknis, Ferdy juga membuka mata para peserta tentang peluang komersial di dunia fotografi.
"Beberapa foto bisa memberikan keuntungan komersial dengan cara menjualnya ke platform-platform tertentu, selama kita konsisten untuk memberikan foto-foto yang unik dan menarik," ujarnya, mengakhiri seminar dengan motivasi bagi para jurnalis untuk terus berkreasi di bidang visual.
Melalui kegiatan ini, Inalum sekali lagi menegaskan komitmennya untuk mendukung insan pers dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalitas, terutama di tengah tuntutan era digital yang terus berkembang. (GS)