Bahkan tak jarang, kerap berisikan informasi yang belum tentu benar antara ucapan dan yang dilakukan.
Perbincangan non formal atau 'Kombur Malotup' di hari libur atau di luar jam kerja di Pondok sederhana tersebut, bukan berada di ruang publik, tetapi di tempat privat atau non publik.
Sedangkan dari rekaman suara, menurut Rasyid, terlihat bercanda dan berandai-andai jika dirinya mau membela Pasangan Calon (Paslon) Bupati-Wakil Bupati Tapsel nomor urut satu (No.01) dan melakukan hal-hal tertentu.
Dan juga, jika dirinya mau membela Paslon Bupati-Wakil Bupati No.02, maka ia akan meminta uang Rp5 miliar untuk membangun Pesantren, dimana, teknis meminta uangnya ditransfer dengan suatu cara tertentu.
Rasyid mengatakan, tidak mungkin uang gratifikasi yang tidak halal diberikannya untuk membangun satu Pondok Pesantren.
Bukan bermaksud mengungkap keimanannya, Rasyid mengaku setiap tahun dengan seizin Allah SWT, ia selalu melakukan ibadah Umroh ke Tanah Suci dari dana menabung.
" Hingga kini, saya masih terus belajar agama. Mana mungkin saya membenarkan uang hasil gratifikasi atau 'uang haram' digunakan untuk membangun sarana pendidikan agama seperti, Pesantren kalau tidak untuk perbincangan Kombur Malotup bernada serius. Maklum, ilmu agama saya masih kerdil. Masih suka berkata Kombur Malotup di ruang privat atau non publik space, " tuturnya.
Meski tidak benar, dari isi perbincangan 'ngelantur' dan bercampur antara membela Paslon Bupati-Wakil Bupati No.01 dan No.02 ini, sebut Rasyid, harusnya sudah bisa dipastikan bahwa ia, tidak memihak Paslon salah satu di antara kedua kandidat Kepala Daerah itu.
Rasyid juga menyebut bahwa, pada rekaman itu menyebut, jika dirinya mundur, maka mantan Bupati Tapsel Syahrul Pasaribu dan Paslon No.02 akan takut itu terjadi. Hal ini baginya, sama sekali jelas-jelas tidak ada kaitan antara ketakutan antar Paslon dengan posisinya sebagai Plt Bupati Tapsel.
" Bisa dipastikan bahwa, perbincangan itu hanyalah lelucon atau karang-mengarang di antara mereka yang ada dalam bincang-bincang Kombur Malotup itu, " katanya.
" Dan tidak mungkin juga, salah satu Paslon dan mantan Bupati Tapsel takut jika Rasyid mundur sebagai Plt Bupati atau sebagai Wakil Bupati. Namanya juga Kombur Malotup. Tujuannya saat itu, agar salah seorang yang hadir dalam Kombur Malotup itu senang hati yakni, saudara Bangun Siregar, SH Karena, dia merupakan TS (Tim Sukses) Paslon No.02, " tambahnya.
Rasyid menduga, BS adalah pelaku perekam dialog bincang non formal atau Kombur Malotup di sore hari Minggu di luar jam kerja itu dan ia juga mengaku kaget dan tidak menyangka bakalan ada seseorang yang merekam suaranya.
" Pada salah satu media, saya membaca bahwa saudara BS mengakui yang merekam di Pondok Kebun itu, maka ini aneh. Karena, saya tahu betul bahwa beliau (BS) adalah seorang Pengacara dan diyakini tahu betul bahwa, merekam dan memperdengarkan perbincangan di ruang privat atau non publik, apalagi perbincangan guyonan ala Kombur Malotup di hari Minggu atau waktu non kerja, merupakan perbuatan melawan hukum, " ungkap Rasyid.