Melihat Dapur Produksi Dodol Khas Tanjung Pura Langkat, Hasilkan Omzet Menggiurkan 6 Juta per Hari

photo author
Ayu Kesuma Ningtyas, Realitas Online
- Minggu, 6 April 2025 | 11:18 WIB
Jurnalis Realitasonline.id melihat langsung proses memasak dodol di dapur produksi milik Tengku Malahanasi (Adek) Desa Pematang Tengah Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, Sabtu (5/4/2025). (Realitasonline.id/Dok)
Jurnalis Realitasonline.id melihat langsung proses memasak dodol di dapur produksi milik Tengku Malahanasi (Adek) Desa Pematang Tengah Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, Sabtu (5/4/2025). (Realitasonline.id/Dok)

"Sebelumnya, hampir setiap hari terima pesanan mengaduk dodol, selain untuk dipajang di steling ruko di Jalinsum Tanjung Pura sekaligus dipasarkan langsung ke pembeli, selebihnya dipasok ke pemesan tetap", ucapnya.

Hingga akhirnya sekira tahun 2020, Adek ingin mandiri seraya boyong keluarga pindah rumah atau hijrah ke Desa Pematang Tengah masih di kecamatan yang sama sekaligus membangun usaha dari tempat baru dengan jarak lebih kurang 3 Km dari kediaman semula.

Lebih lanjut, Adek membocorkan rahasia dodol buatannya yang kalau kelihatannya semua dodol itu sama tak ada beda, mulai dari warna, rasa dan bentuknya. Akan tetapi, menurutnya ternyata berbeda, terkhusus rasanya.

Baca Juga: Ini Perbedaan Aki Kering dan Aki Basah, Mana yang Lebih Cocok untuk Kendaraan Anda?

"Sebetulnya dodol ini bahannya sama semuanya, pulut, santan, gula merah, itu aja sebetulnya bahanya, garam. Kuncinya, enaknya dodol ini tergantung gula sebetulnya. Kalau kita pakai gula aren yang asli, enak rasanya, wanginya", ungkap Adek.

Masih menurutnya, untuk menambah rasa agar dodol lebih lezat, maka ditambah salah satu bahan, misalnya durian, nangka, kacang, pandan dan wijen. "Itupun, harus yang asli, bukan sekedar aroma atau perasa buatan", bilangnya.

Omzet Menggiurkan

Hingga kini produksi dodolnya, sebut Adek masih terus diminati konsumen, terbukti dengan permintaan yang tak berhenti. Untuk lebaran tahun ini rata-rata 8 kuali perhari diproduksi dengan perhitungan 15 kg per kuali.

Katanya, produksi dodol yang telah matang dikemas menggunakan plastik dengan potongan kecil dimuat kedalam wadah kotak mika, yang kalau dijumlah menjadi 24 bungkus plastik dalam satu mika. Dan ada juga dipotong besar seukuran kotak mika. Dari kalkulasi yang dilakukan, per 1 kulali (15 kg dodol) menghasilkan 150 kotak mika.

"Satu hari rata-rata 8 kuali, kalau kita kilokan, 1 hari 15 kilo kali 8 kuali. Dalam 15 kilo menghasilkan 150 mika yang dibandrol untuk potongan kecil 10 ribu rupiah per mika, sedangkan potongan besar 20.000 rupiah per mika. Omzetnya bisa 5 juta atau 6 juta lah satu hari", sebut Adek mengkalkulasi.

"Lebaran ini, rata-rata 8 lah, hari biasa, terkadang 4 sampai 6 kuali bisa diaduk", tambahnya.

Disinggung terkait tenaga pekerja, Adek punya strategi sendiri cara mengaturnya. Dia cukup membutuhkan 2 orang saja untuk mengaduk dodol. Karena, pernah menggunakan 4 orang, akan tetapi, upah yang diterima menjadi lebih sedikit untuk membayar ke 4 nya.

Baca Juga: Suspensi Racing vs. Suspensi Standar, Mana yang Lebih Nyaman untuk Harian?

"Pekerja kalau yang normalnya 2 untuk ngadok kali 8 kuali. Kalau 4 orang, tapi sikitlah dapat gajinya. Baru, kalau lebih 8, kita tambah pekerjanya", pungkasnya.

Selain itu, katanya, durasi memasak dodol untuk mencapai tahap kematangan memakan waktu lebih kurang 3 jam lamanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ayu Kesuma Ningtyas

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

‎Bupati Taput Sumbang Saran Inovasi PPID APKASI

Sabtu, 18 April 2026 | 11:40 WIB
X