Realitasonline.id - PADANGSIDIMPUAN | Perjuangan RA Kartini memperjuangkan kesetaraan perempuan membuahkan hasil nyata.
Salah satunya tercermin dalam kiprah petugas ukur perempuan di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Srikandi ini hadir tidak hanya sebagai ujung tombak dalam pendaftaran tanah, tetapi juga membawa pendekatan yang lebih humanis dan inklusif, terutama di daerah terluar Indonesia.
Baca Juga: Cara Mix and Match Fashion Purana agar Terlihat Modern dan Chic
Shafira Dian Kumala Sari, satu-satunya petugas ukur perempuan di Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara yang menuturkan peran perempuan dalam proses pengukuran turut membawa warna tersendiri.
“Sebagai perempuan, kami berusaha lebih memahami kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat secara mendalam agar komunikasi berjalan efektif dan kepercayaan bisa terbangun, ” ujarnya, Kamis (24/4/2025).
Ia mengatakan, wilayah terluar seperti Nunukan menyimpan tantangan berat, mulai dari medan sulit, akses terbatas, hingga rendahnya kesadaran hukum masyarakat dan dalam kondisi ini, pendekatan empatik menjadi kunci.
“Ketika masyarakat menerima sertifikat tanahnya, saya merasa ikut membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik dan stabil, ” ujar Shafira Dian Kumala Sari.
Cerita serupa datang dari Anggi Halimah Dala, petugas ukur dari Kantah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Medan ekstrem berupa perbukitan dan pegunungan tidak menyurutkan semangatnya.
“ Setiap hari kami menghadapi tantangan medan, tapi semangat kami tetap sama: memastikan pengukuran dilakukan secara akurat dan tuntas, ” katanya.
Bagi Anggi, kontribusi petugas ukur perempuan tidak hanya sebatas pekerjaan teknis, tetapi juga mendukung pemerataan pembangunan nasional.
“ Data pertanahan yang valid bisa menjadi fondasi penting bagi pemerintah daerah dalam merancang pembangunan yang lebih baik, ” pungkasnya.