Pantang Menyerah, Rahmat Nasution Mahasiswa STAIN Madina Jalan Kaki Jualan Kacang Tojen Demi Jadi Sarjana, Begini Kisahnya

photo author
Iin Prasetyo, Realitas Online
- Kamis, 8 Mei 2025 | 09:27 WIB
Rahmat Nasution yatim piatu warga Panyabungan seorang Mahasiswa STAIN Madina dan penjual Kacang Tojen berjalan kaki
Rahmat Nasution yatim piatu warga Panyabungan seorang Mahasiswa STAIN Madina dan penjual Kacang Tojen berjalan kaki

Realitasonline.id - Madina | Rahmat Nasution seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam Negeri Mandailing Natal (STAIN Madina) tanpa kedua orang tuanya berjualan kacang tojen dengan berjalan kaki hingga malam hari demi mengejar cita-cita menjadi seorang sarjana.

Diceritakan Rahmat Nasution, dirinya sempat tinggal bersama kakak kandungnya yang sudah berumah tangga yang juga ekonominya sangat tergolong rendah usai kedua orang tuanya ayah dan ibunya meninggal dunia.

Pada saat itu dirinya masih duduk di bangku SMP hingga kuliah Rahmat tetap semangat mencari rezeki tanpa kedua orang tuanya, Dirinya kini sudah jauh dari saudara kandungnya bahkan Rahmat ke kampus tidak malu membawa dagangannganya untuk menyambung hidup dan meneruskan cita-citanya.

"Dari dulu saya tidak mau membebani saudaraku. Saudaraku juga ekonominya sangat rendah jadi dulu aku sering bantu-bantu ke rumah orang apa aja yang bisa aku kerjakan dan saat ini alhamdulillah aku sudah semester VIII Fakultas Tarbiyah Keguruan dan setiap hari aku berjualan ke kampus, ke ruang dosen bahkan ke kos-kosan teman kampus yang ada di sekitaran kampus," kata Rahmat Nasution kepada Waratwan, Kamis (8/5/2025).

 

Baca Juga: Jadi Pemateri Diklat Paralegal, Sekjen PWI Abdya: Karya Jurnalistik Jadi Kekuatan Hukum

 

Rahmat Nasution menceritakan dirinya sering makan nasi kuah tanpa lauk jika dagangannya tidak laku. Bahkan dirinya rela berjualan dengan berjalan kaki hingga puluhan kilometer sampai tengah malam sementara paginya ia harus bangun pagi lagi untuk mengejar mata kuliahnya di kampus.

"Aku ke kampus jam 7:30 sedang aku berjualan kadang sampai jam 3 pagi, kalau makan tidak pakai lauk itu sudah biasa apalagi sewaktu penjualan merosot. Jualan ini punya tetangga tempat kosan aku sesudah laku baru aku bayar kepada ibu tetangga aku itu," kisahnya.

Meski nasib Rahmat Nasution tidak sebaik mahasiswa pada umumnya, dengan berjualan kacang tojen dengan penghasilan Rp40 ribu per harinya tapi semangat dirinya tak pernah surut. Bahkan, dirinya berharap suatu saat nanti bisa membeli sepeda saja sudah bersyukur agar dirinya lebih mudah ke kampus dan berjualan keliling,

"Paling tidak punya sepeda saja sudah syukur apalagi saat ini saja, aku terkadang masih kesulitan membayar uang kos senilai Rp300 Ribu per bulannya tapi kadang aku terpaksa pinjam duit teman untuk bayar kos baru nantinya aku cicil," ungkapnya.

 

Baca Juga: Calhaj Kloter 6 Langkat Diberangkatkan, Ketua PPIH Ahmad Qosbi: Wukuf di Arafah Penentu Kemabruran Ibadah Haji

Rahmat punya impian saat ini, jika memiliki rezeki dalam waktu dekat ini akan bisa membeli laptop bekas saja supaya dirinya tidak lagi ke warung internet (Warnet) jika mengerjakan tugas dari kampus dan sampai saat ini dirinya masih berpikir terus bagaimana dia bisa memiliki biaya untuk menuntaskan wisudanya.

"Sulitnya jika ada tugas dari kampus aku terpaksa ke warnet untuk mengerjakannya tapi aku jualan sampai malam pas aku nanti mau ke warnet sudah pada tutup, terkadang aku terpaksa siang aku sempatkanlah ke warnet," tuturnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Iin Prasetyo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

‎Bupati Taput Sumbang Saran Inovasi PPID APKASI

Sabtu, 18 April 2026 | 11:40 WIB
X