Praktek jual beli lahan HGU 103 Kebun Bulu Cina sudah menjadi rahasia umum di daerah tersebut. Hampir sebagian besar pemilik lahan kelapa sawit dengan areal yang luas di atas 10 hektar pemilik modal dari luar Bulu Cina. Seperti pengusaha asal Binjai, Stabat, Medan dan beberapa daerah lain. Mereka membayar kepada oknum pengurus Kelompok Tani Batang Beluh.
"Kalau kami sekadar bekerja saja pak. Makan gaji istilahnya. Bukan kami yang punya, ada pemiliknya kebun kelapa sawit ini dan mereka datang dalam waktu-waktu tertentu," sambung pria setengah tua ini.
Tim inventarisasi dan verifikasi di Posko Tali Asih Kabun Bulu Cina, hingga Sabtu sore sudah menerima pendaftaran 41 warga yang siap menerima tali asih dari PTPN 2. Mereka sebagian penggarap, selama ini hanya bercocok tanam palawija seperti jagung, ubi kayu dan sayur mayur untuk kebutuhan hidup sehari hari.
Sementara tim pembersihan HGU 103 Bulu Cina, pada hari pertama Jumat (17/3/23) kemarin bekerja cepat. Sebanyak 24 unit alat berat beko, diturunkan ke lokasi bekerja efektif dan berhasil membersihkan 70 hektar dalam tempo sehari. Direncanakan, dalam waktu sepekan seluruh areal seluas 382 hektar selesai diokupasi (pembersihan lahan).
Diberitakan sebelumnya, warga penggarap yang selama ini menguasai areal HGU 103 Kebun Bulu Cina mulai meninggalkan lokasi garapan mereka. Seiring dengan dimulainya pelaksanaan okupasi di tempat itu, Jumat (17/3/23) pagi.
Warga yang sudah menerima tali asih atau warga yang selama ini mengontrak rumah milik orang lain di lokasi areal HGU dengan sukarela langsung mengeluarkan barang-barangnya.
Dibantu angkutan yang disiapkan PTPN 2, mereka membawanya ke pemukiman yang baru.
Sementara Posko Tali Asih yang berada di simpang Pasar VII Dusun XX Batang Beluh. disiapkan untuk menerima pendaftaran warga yang belum menerima tali asih. Hal ini dimaksudkan agar lebih memudahkan warga yang ingin menerima tali asih sebagai wujud kepedulian PTPN2 terhadap warga yang selama ini tinggal di areal HGU 103 Kebun Bulu Cina.
"Tali asih tetap kita salurkan kepada warga karena merupakan bentuk kepedulian PTPN 2 terhadap warga masyarakat, baik yang memiliki rumah tempat tinggal maupun tanaman palawija yang selama ini diusahainya," jelas Kasubag Humas PTPN 2 Rahmat Kurniawan di lokasi.