Realitasonline.id - ACEH TENGGARA | Bupati Aceh Tenggara Muhammad Salim Fakhry menggerebek sebuah gudang dan temukan ratusan ton yang diduga beras oplosan di Desa Terutung Seperai Kecamatan Bambel, Kamis (3/4/2025) pukul 1.30 WIB dini hari.
Saat penggerebekan gudang beras tersebut Salim Fakhry didampingi Staf ahli Bupati Bidang Keuangan, Ekonomi dan Pembangunan, Hataruddin, Kasat Reskrim, Iptu Bagus Pribadi, Iptu Iskandar Said Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan (Sat Intelkam) Polres Aceh Tenggara.
Salim Fakhry saat menjawab realitasonline.id pada Kamis (3/4/2025) mengatakan penggerebekan itu dilakukan berdasarkan adanya informasi dari masyarakat telah terjadi dugaan pengoplosan beras.
Baca Juga: Hadiri Halal Bi Halal Manggeng Raya, Bupati Safaruddin Ajak Warga Abdya Bersinergi Bangun Daerah
Informasi itu kita dapatkan saat acara halal bi halal Idulfitri di rumah. "Adanya dugaan indikasi pengoplosan beras yang dilakukan oleh oknum di Desa Terutung Seperai Kecamatan Bambel Aceh Tenggara," kata Salim Fakhry.
Karena informasi tersebut semakin kuat, saya minta kepada Kasat Reskrim, Kasat Intel untuk meninjau lokasi gudang yang diduga lokasi beras oplosan, ternyata informasi yang disampaikan masyarakat tersebut benar adanya, sebut bupati.
Saat ini, palaku bersama barang bukti telah diamankan ke Polres Aceh Tenggara (Agara).
Salim Fakhry berharap, kasus ini secepatnya diusut sampai ke akar-akarnya. “Andaikan ada oknum-oknum yang bermain di sini, maka bersiap-siap, ya kita percayakan kepada Polres Aceh Tenggara untuk melakukan penyelidikan kasus pengoplosan beras ini," tegasnya.
Pengoplosan beras itu diperkirakan ratusan ton, karena barang bukti yang dibawa ke Polres di dalam mobil saja sudah 20 ton.
Sebelumnya pengakuan pengusahanya, beras itu dijual ke Sumatra Utara, namun saat di interogasi pengusaha (UD KJT) mengaku sudah melempar ke Bulog Kutacane untuk pengoplosan beras 400 ton.
Menurut pelaku inisial MMT yang mengakui telah mencampur berbagai jenis beras dengan kualitas berbeda.
Semoga indikasi praktik pengoplosan beras yang berhasil terungkap hanya terjadi di satu lokasi ini, untuk itu kita mengimbau masyarakat agar lebih waspada dalam membeli beras dengan selalu memeriksa label dan izin resmi perusahaan yang tertera pada kemasan.