Jika tidak ada fotografer komersial atau pers yang akan diajak ikut pada otoritas militer dari sejumlah negara.
Baca Juga: Bisa Dites dengan Ibu Jari? Begini Cara Membedakan Madu Asli atau Palsu
Jika dibandingkan dengan zaman sekarang, pengambilan foto di masa perang dilakukan dengan kamera kuno yang jauh lebih sulit.
Fotografi akan lebih mudah dilakukan di perang wilayah utara daripada Selatan. Hal tersebut karena pasokan bahan membuat foto lebih mudah didapat di utara.
Dalam pengambilan foto objek ataupun subjeknya harus sesuai dengan posisi duduk ataupun berdiri diam selama delapan detik.
Karena itu, foto bisa diambil sebelum ataupun setelah pertempuran.
Baca Juga: Dengar Keluhan Warga Baskami Ginting Salurkan Bantuan Pertanian ke Batukarang Karo
Kamera tidak akan bisa menangkap gerakan cepat pada pertengahan pertempuran yang sedang terjadi.
Walaupun dalam pembuatannya sulit, harga foto akan lebih murah. Biasanya, foto dihargai 50 sampai 75% dengan wadah kotak.
Sementara, harga 5 sampai 10 sen untuk foto yang dicetak seperti kartu pos.
Fotografi selama perang terutama pada perang dunia, pertama berkembang pembuatannya dari lensa kaca dan perkembangan bidang kimia pada tahun 1850.
Baca Juga: Dengar Keluhan Warga Baskami Ginting Salurkan Bantuan Pertanian ke Batukarang Karo
Pada abad tersebut, kamera diproduksi secara massal yang bisa mengambil foto serta mengirim isi dari film untuk diproses.
Teknik awalnya digunakan menghasilkan lembaran foto. Proses tersebut menggunakan plat tembaga berlapis perak iodida yang disinari dengan cahaya kamera.
Diasapkan dengan uap merkuri serta pembuatan permanen dengan larutan garam.