Realitasonline.id - Binjai | Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr DJoelham Binjai angkat bicara terkait adanya seorang pasien berusia 75 tahun meninggal dunia sewaktu cuci darah.
Menurut Plt Direktur RSUD Djoelham Binjai dr. Romi A. Lukman, pelayanan yang diberikan oleh pihaknya kepada para pasien sudah sesuai Standard Operasional Prosedur (SOP).
"Untuk kasus ini, kami sudah sesuai prosedur. Kami juga minta segala tuduhan atau dugaan tersebut jangan hanya yang kita lihat saja," katanya didampingi penanggungjawab Hemodialisa dr Alfred Situmorang, Sp. PD, serta kuasa hukum pihak Rumah Sakit, Arif Budiman Simatupang. semalam.
Terkait pelayanan yang kurang baik ataupun kekurangan di RSUD Djoelham Binjai, dokter yang baru sekitar sebulan menjabat sebagai Plt Direktur tersebut mengaku sudah mulai melakukan perbaikan.
Disinggung adanya pasokan air dari BPBD Binjai bertepatan dengan proses cuci darah terhadap korban, dr. Romi menegaskan bahwa hal itu untuk menjaga kestabilan air.
"Kalau ditanya mengapa harus air dari Damkar dan apakah disini tidak ada air seperti yang disampaikan anak korban dengan kualitas buruk, hal itu tentunya tidak. Kita di sini ada pasokan air seperti dari BPBD yang tujuannya untuk menjaga kestabilan air tersebut," jelas dr Romi.
Walaupun pasokan air dari BPBD Binjai tersebut merupakan air yang bersih, sebut dr Romi, namun pihaknya tidak serta merta langsung memasukkan ke mesin Hemodialisa.
"Air yang dari BPBD itu pasti air bersih dan bukan air yang diduga seperti di pemberitaan, yaitu tidak steril. Air itu juga bukan serta merta masuk ke mesin. Terlebih dahulu akan difilter atau disaring lagi hingga memenuhi standard dan layak untuk dipakai," terangnya.
Baca Juga: Baru Menjabat, Wali Kota Rico Waas Datangi Polrestabes Medan, Ada Apa?
Begitupun, dr Romi mengungkapkan belasungkawa atas meninggalnya korban. Sebab menurutnya, pelayanan yang diberikan terhadap pasien tersebut sudah maksimal.
"Kami turut berbelasungkawa, semoga keluarga tabah dan ikhlas," tuturnya.
Sementara itu, penanggung jawab Hemodialisa di RSUD Djoelham Binjai, dr Alfred Situmorang Sp. PD, saat disinggung tentang adanya tulisan "No Water" dalam proses cuci darah terhadap korban mengatakan, proses (cuci darah) tetap bisa dilakukan meskipun mengalami kekurangan air.
"Jadi fungsi air itu untuk menjaga kestabilan pasokan air yang masuk ke mesin. Dalam hal ini, kurang air yang dimaksud tidak secara spesifik ke mesin. Air pada tubuh pasien yang menjalani cuci darah ibarat pasien yang menjalani cuci darah dalam kondisi puasa," bebernya.