Realitasonline.id - Taput | Sudah jatuh ketimpa tangga pula, mungkin itulah pribahasa yang sangat pantas diterima pelanggan perusahaan daerah air minum (PDAM) Mual Natio Tapanuli Utara.
Karena dalam kurun waktu seminggu, pelanggan tidak hanya mengalami mati air, tapi kualitas air diseputaran kantor PUPR dan Perumahan Amor Jaya Tarutung yang didistribusikan PDAM Mual Natio sangat keruh seperti air lumpur.
Padahal, tarif dasar air minum telah dinaikan berlaku sejak Maret, tapi kualitas dan pelayanan distribusi air kepada pelanggan semakin buruk, sehingga pelanggan terpaksa menelan pil pahit berupa kualitas air keruh.
Buruknya pelayanan PDAM kepada pelanggan setianya menyasar ke postingan media sosial yakni Facebook. Salah satu akun Demus Situngkir menyajikan video menyalakan air PDAM menggunakan pompa air.
Baca Juga: Pelatihan Manajemen Perusahaan Air Minum Angkatan 143, Kabir Bedi: Pegawai Harus Miliki Kompetensi
Dalam video tersebut menunjukkan kualitas air yang sangat keruh serta tidak layak minum. Banyak netizen memberikan komentar negatif, pada dasarnya miris dengan kualitas air PDAM yang disalurkan ke pelanggan.
Senada juga akun Artno Dedy Daniel Barus, memosting air PDAM yang kondisinya mengalir dengan tekanan pompa air, akan tetapi kualitasnya sangat keruh.
Hal serupa juga dialami salah satu pelanggan (tidak bersedia disebutkan namanya) mengaku kecewa dengan kualitas air PDAM Mual Natio.
" Kami tidak masalah mau dinaikkan tarif dasar air minum, terpenting airnya layak untuk diminum. Tidak usahpun diminum, dipakai untuk mencuci pakaian ataupun mandi sangat tidak layak, karena kuning seperti berlumpur bahkan berbau," ucapnya, Selasa (16/4/2024).
Baca Juga: Ramadhan Berbagi Perumda Tirta Uli Siantar Bebaskan 185 Mesjid Dari Beban Pembayaran Air
Hal ini sudah sering terjadi dan menimpa pelanggan terlebih bila hujan deras melanda. "Sudah seminggu air kami tidak mengalir, kalau mau hidup harus ditarik pakai Sanyo. Itupun kalau ditarik, pasti keruh dan berlumpur," kesalnya.
Untuk mengantisipasi kebutuhan air minum, terpaksa harus membeli air bersih, bahkan seminggu enam galon air bersih yang kami pesan ke penjual air minum, agar pelanggan bisa menggunakan air bersih.
"Sudah harus menerima beban tarif air naik, kami juga harus mengeluarkan biaya membeli air minum, serta bayar tambahan kenaikan listrik akibat menggunakan pompa air. Sungguh sangat luar biasa pelayanan yang kami terima," kesalnya.
Sementara Dirut PDAM Mual Natio Lamtagon Manalu sebelumnya mengatakan, kenaikan tarif air minum terpaksa dilakukan agar tidak membebani APBD. Padahal ada skema subsidi untuk kenaikan tarif air minum, namun kondisi APBD tidak mampu dan bisa memicu defisit anggaran cukup tinggi.